Satsang

By: Anand Krishna

Dalam tradisi Cina, kadang kita dinasehati orang tua untuk bergaul dengan teman yang lebih pintar atau lebih kaya (secara materi) sehingga kepintaran atau keberuntungan teman itu dapat “menular Ekepada diri kita. Masuk diakal, karena seorang teman biasanya akan lebih mudah membantu teman-teman sepermainannya daripada orang lain yang tidak dikenalnya sama sekali. Demikian juga dalam perjalanan spiritualitas.

Guruji Anand Krishna, pada beberapa kali kesempatan pertemuan menjelang HUT Anand Ashram ke-17, 14 Januari 2007 lalu, mengingatkan pentingnya Satsang bagi perkembangan spiritual setiap meditator. Dan, Guruji menemukan bahwa ternyata pentingnya Satsang juga tercantum dalam salah satu buku untuk anak-anak terbitan Taiwan berjudul: “Guide to Happy Life Etentang nasihat-nasihat bijak dalam tradisi Cina kuno.

Dalam nasihat-nasihat itu terdapat (1) nasihat untuk bersikap di dalam rumah (seperti menghormati orang tua), (2) peraturan-peraturan yang harus ditaati dalam pergaulan di luar rumah, (3) bagaimana kita untuk selalu waspada, (4) bagaimana kita harus dipercaya orang, (5) mencintai sesama, (6) mempelajari literatur & seni untuk peningkatan spiritualitas, dan (7) selalu bergaul dengan orang-orang yang bijak dan penuh kasih (Satsang).

Guruji khususnya menyoroti masalah pergaulan kita, apakah sudah menjadi Satsang atau malah menjadi Kusang? Kusang bukan berarti pergaulan yang benar atau salah, tapi apakah pergaulan kita sudah menunjang spiritualitas kita atau belum? Dalam buku ini tertulis bahwa bila kita bergaul dan dekat dengan orang-orang yang bijak dan penuh kasih, maka otomatis kita akan mendapatkan manfaat dalam hal peningkatan kesadaran
dari pergaulan kita. Kekurangan kita pun akan berkurang.

Tapi jika kita memilih untuk tidak bergaul atau dekat dengan orang- orang bijak dan penuh kasih, maka “bad company E(teman-teman yang tidak menunjang kesadaran kita) akan datang mendekati kita. Bila hal ini terjadi maka tidak ada sesuatu apapun yang kita lakukan/kerjakan, dapat terlaksana secara tepat dan lancar.

Dalam buku ini juga dibahas bahwa (1) jika kita marah ketika dikritik tapi senang ketika disanjung, maka “bad company E(Kusang) akan datang dan orang-orang baik dan bijak akan menjauh. (2) Bila kita memperbaiki kesalahan yang kita perbuat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, maka kesalahan itu tidak lagi menjadi milik kita. Sebaliknya bila kita malah menutup-nutupi kesalahan kita, maka kita malah melakukan kesalahan 2 kali. (3) Bila kita memberitahu atau menegur sebuah kesalahan, maka
baik kita maupun orang lain yang berbuat kesalahan akan mendapatkan manfaat yang lebih baik, tapi bila kita diam saja ketika orang lain berbuat salah maka kita pun menjadi bagian dari kesalahan tersebut. (4) Dan terakhir, bila kita tidak melakoni apa yang sudah kita pelajari, maka hal itu hanyalah “superficial Edan tidak ada gunanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s