Divine Discourse – Dec 18, 1994

— In mayapadaprana@yahoogroups.com, “Achmad Zakaria”
<achmad80@…> wrote:

Bagaimanakah caranya agar manusia dapat menyadari kebenaran? Yaitu
apabila ia dapat menyadari prinsip non-dualisme. Selama ia masih
berkutat dengan dualisme (yaitu paham bahwa dirinya dan Sang Divine
adalah dua entitas yang saling berbeda), maka selama itu pula, ia
masih akan diombang-ambingkan oleh faktor yang saling berlawanan,
yakni: kesenangan dan kesedihan, realitas dan non-realitas, dan
sebagainya. Segala sesuatu yang eksis di alam semesta ini adalah
milik Tuhan, namun manusia justru membayangkan bahwa dirinyalah sang
pemilik atas segala hal dan sebagai akibatnya, ia terperangkap dalam konsep
“milikku” dan “milikmu”. Padahal dalam realitasnya, kita diberi tugas
untuk mengawasi harta kekayaan yang sebenarnya adalah milik Divine.
Dengan perkataan lain, setiap orang harus memperlakukan dirinya
sebagai pengawas atas kekayaan dunia ini. Sebagaimana seorang teller
atau kasir sebuah bank yang menangani uang dalam jumlah banyak, namun
uang-uang tersebut bukanlah miliknya.
Dia tidak boleh menggunakan
uang tersebut untuk kepentingan pribadinya, melainkan harus memastikan
keamanannya. Nah, demikianlah, semua pengawas dalam kehidupan ini
bertanggung-jawab untuk menjamin pemanfaatan yang benar atas harta
kekayaan yang telah dititipkan kepada mereka. Tak ada seorangpun yang
berhak mengklaim kepemilikannya. Untuk itu, engkau perlu memastikan
adanya unity dalam pola pikirmu, ucapan dan perbuatanmu.

– Divine Discourse, December 18, 1994

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s