Kado Terindah

Source: MangUcup.org

Sering tersirat di dalam pikiran kita: “Wah kalau saya hidup ketika jaman Tuhan Yesus masih hidup, pasti akan saya berikan seluruh kasih sayang saya kepada Dia, bahkan kalau perlu jiwa dan raga sayapun bersedia saya korbankan untuk-Nya!” Tetapi seperti juga yang tercantum dalam Alkitab ‘Ketahuilah:
waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada- Ku!’

Artaban adalah orang Majus yang ke empat yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Tuhan Yesus ketika Ia dilahirkan di Bethlehem.
Bahkan sebelumnya Artaban telah menjual seluruh harta kekayaannya agar ia
bisa mempersembahkannya untuk Raja yang akan dilahirkan. Dari hasil uang
tersebut ia membeli tiga buah batu permata yang sangat berharga sekali ialah batu permata saphir biru, ruby merah dan mutiara putih. Ia telah berjanji untuk bertemu di satu tempat khusus dengan ketiga orang Majus lainnya ialah Caspar, Melchior dan Balthasar, karena waktu sudah sangat mendesak sekali, jadi apabila Artaban terlambat maka ia akan ditinggal oleh mereka.

Dalam perjalanan ia melihat orang berbaring ditengah jalan, rupanya orang tersebut
sedang menderita sakit berat dan sangat membutuhkan sekali pertolongannya.
Apabila ia tidak menolong orang tersebut, pasti orang tersebut akan meninggal dunia, sebab mereka berada disatu tempat yang sepi dan jauh dari penduduk.

Tetapi kalau ia menolongnya pasti ia akan terlambat dan akan ditinggal pergi oleh kawan-kawan yang lainnya. Walaupun demikian karena ia mengetahui menolong jiwa orang ada jauh lebih penting dari segala-galanya, maka ia rela ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Akibatnya cukup fatal bagi Artaban, ia harus menjual batu permata sapir yang seyogianya untuk Raja tersebut, sebab ia harus membiayai seluruh biaya karavan mulai dari onta-onta, makanan, minuman dan pemandu jalan untuk melampaui padang pasir sekali lagi.
Disamping itu ia juga merasa sedih, sebab sang Raja tidak akan mendapatkan batu saphir nya tersebut.

Walaupun ia berusaha untuk mengejar kawan-kawannya secepat mungkin, ternyata
setibanya di Bethlehem pun ia terlambat lagi, karena Jusuf & Maria berikut Bayi nya sudah tidak ada disana lagi. Pada saat Artabhan tiba di Bethlehem, perajurit-perajuritnya Raja Herodes sedang dengan ganasnya menjalankan perintah Herodes untuk membunuh para bayi. Ditempat ia menginap bayi putera pemilik penginapannya hendak dibunuh pula oleh seorang komandan dari Herodes. Artabhan melihat dan mendengar ratapan tangis dari ibu bayi tersebut dan ia merasa tidak tega dan merasa terpanggil untuk menolongnya.
Oleh sebab itulah ia rela menukar jiwa dari bayi tersebut dengan batu permata ruby yang dibawanya. Hal ini membuat Arthaban bertambah sedih, karena batu permatanya untuk sang Raja semakin berkurang, bahkan hanya tinggal satu batu mutiara saja sisanya. Sebelum ia tiba di Yerusalem, tigapuluh tahun lebih ia mencari sang Raja dimana-mana dan ia merasa tercenggang mendengar bahwa Raja yang dicarinya bertahun-tahun akan disalib di Golghata.

Walaupun demikian ia merasa terhibur sebab ia masih memiliki batu permata terakhir ialah batu mutiara yang bisa ia gunakan untuk menebus hidup-Nya
Raja, agar Ia tidak disalib. Seperti halnya ketika ia menebus hidupnya seorang bayi ketika ia berada di Bethlehem. Dalam perjalanan menuju ke Golgatha ia melihat seorang anak perempuan menangis dan meratap meminta tolong kepadanya: “Tuan tolonglah saya, para perajurit akan menjual diri saya sebagai budak, karena ayah saya mempunyai hutang banyak. Ayah saya tidak mampu melunasi hutang tersebut, oleh sebab itulah sebagai gantinya ia mengambil diri saya untuk dijual. Tolong tuan!” Walaupun betapa sedihnya hati Arthaban, tetapi ia melihat keadaan sangat mendesak sekali, sebelum anak ini dijual dan dijadikan budak untuk seumur hidupnya, lebih
baik ia menukar batu mutiaranya untuk menebus anak tersebut dan menyelamatkannya.

Setelah itu langit menjadi gelap gulita dan terjadi gempa bumi, sehingga ia jatuh terbaring dan gadis tersebut jatuh pula terbaring diatas pundaknya.
Tiba-tiba secara tidak sadar ia mengerakkan bibirnya dan berbicara: ‘Tuhan,
kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan,
atau haus lalu kami memberi Tuhan minum? Kapan kami pernah melihat Tuhan
sebagai orang asing, lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan
Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami
pernah melihat Tuhan sakit atau dipenjarakan, lalu kami menolong Tuhan?’

Dan dari jauh terdengar suara sayup-sayup yang sangat lembut menjawab:
“Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah
seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya
kepada-Ku!” Setelah itu meninggalah Arthaban. Ia meninggal dengan
mulut penuh senyuman, karena ia mengetahui bahwa semua jerih payahnya dan
semua hadiah untuk Raja telah diterima oleh Raja dengan baik.

One response to “Kado Terindah

  1. Cari kado yang terbaik dan yang terburuk. tapi yang terburuklah yang akan baik hadiahnya…. tapi apabila anda memilih kado yang baik anda akan menyesai dengan isinya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s