Mukzizat Natal

Christmas Truce: Wikipedia

Source: mangucup

Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain. Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan – bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.

Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan seluruh
anggota keluarganya masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di
bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.

Berbeda dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar sangat dingin sekali dan saljupun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melainkan berada di hadapan musuh perang mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.

Tiada hadiah yang menunggu selainnya peluru dari senapan musuh, bahkan
persediaan makananpun sudah berkurang jauh, sehingga hari inipun hampir
seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya
salju. Biasanya mereka berada di lingkungan suasana yang hangat dan bersih,
tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit, seperti layaknya seekor tikus, boro-boro bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini selainnya rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Seorang tentara sedang merintih kesakitan karena barusan saja terkena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras dan tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan.
Kapankah perang ini akan berakhir ? Kapankah mereka akan bisa pulang kembali
ke rumahnya masing-masing ? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang – orang
yang mereka kasihi ? Dan masih merupakan satu pertanyaan besar pula, apakah
mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri dan
anak – anaknya ? Entahlah…

Tidak sepatah katapun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa
hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya
sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu seperti demikian.

Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang
prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka, sehingga nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu “Stille Nacht,
heilige Nacht” (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut semakin
jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarganya yang berada jauh dari medan perang ini.

Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu
tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit Sprink
tersebut sebelumnya ia dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor
opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam Natal
tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan menyanyikan
lagu tersebut, walaupun ia mengetahui dengan menyanyikan lagu tersebut,
prajurit musuh bisa mengetahui tempat di mana mereka berada.

Ia bukan hanya sekedar menyanyi dalam tempat persembunyiannya saja, ia
berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga dapat
terlihat dengan nyata oleh semua musuh – musuhnya. Melalui nyanyian tersebut
ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari
Natal ini, ialah untuk berbagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya.
Tetapi apa yang terjadi, apakah ia ditembak mati ?

Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukjizat yang terjadi, sebab pada saat yang bersamaan semua prajurit yang ada di situ, satu demi satu turut keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing, dan mereka mulai menyanyikannya bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Dengan perasaan terharu mereka turut menyanyikan lagu Malam Kudus. Hujan air mata tak dapat dibendung. Air mata dari mereka yang berada jauh dari orangtua, anak, calon istri, kakak, adik, dan sahabat mereka.

Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasanya masing – masing, di
sinilah rasa damai dan sukacita benar – benar terjadi. Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.

Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seyogianya harus saling tembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan menyembah bersama kelahiran-Nya Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mukjizat Natal yang benar – benar bisa membawa suasana damai di malam yang suci.

Saya berharap melalui tulisan ini dapat membagikan rasa kasih dan damai kepada rekan – rekan dan para pembaca budiman, serta mengajak kita semua untuk merenungkan kembali makna Natal yang sebenarnya.

Apabila ternyata masih ada luka batin yang belum sembuh, marilah kita mengambil kesempatan di akhir tahun ini untuk saling memaafkan dan mendoakan satu dengan yang lain, dan biarlah damai bertahta di hati kita.
Dan robohkanlah tembok pemisah diantara kita; entah itu berupa agama, etnis, kedudukan, harta maupun pendidikan.

Selamat Hari Natal untuk para pembaca dan rekan – rekan yang budiman

Mang Ucup
Email: mang.ucup@…
Homepage: www.mangucup.org

2 responses to “Mukzizat Natal

  1. What a woderful story. it makes me crying.KAsih and pengampunan memang harus mewarnai kehidupan orang Kristen, kalau tidak perayaan Natal hanyalah sebuah kemunafikan.Selamat Natal to you too. God bless. John 3:16

  2. wouw…
    membuat haru…
    walaupun natal dah lewat, sy ucapkan met natal 07 ya.
    Salam damai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s