Category Archives: Motivation inspiration

Di Dalam Dirimu

Didalam dirimulah perubahan sejati bermulai …

(Excerpted from: Maitreyawira no 15/ Thn.V1/Juni 2001 hal32-33)  

Untuk memahami mengapa vegetarian sekarang berkembang dengan kepesatan yang belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya, mari kita melihat terlebih dahulu bagaimana kedua peristiwa berikut dijelaskan.

1. Pertama adalah percobaan yang dilakukan di Universitas Havard selama lebih dari sepuluh tahun. Tikus-tikus diajari untuk melarikan diri dari maze air. Setiap generasi bisa belajar melarikan diri lebih cepat dari generasi sebelumnya dan sepuluh tahun kemudian tikus-tikus bisa melarikan diri sepuluh kali lebih cepat dari generasi pertama. Hal yang menarik adalah meningkatkan kecepatan melarikan diri ternyata terjadi pada semua tikus pada jenis yang sama dan tidak hanya keturunan tikus generasi pertama. Malahan setelah diamati tempat-tempat lain didunia, tikus dari jenis yang sama ini juga menunjukkan kemajuan yang sama.

2.  Pengamatan terhadap burung Eropa bernama blue tit menunjukkan mereka ternyata telah belajar mencuri cream dari bagian atas botol susu yang ditinggalkan dipintu rumah. Akhirnya semua burung di Eropa mencuri cream. Ketika Perang Dunia II tiba, susu tidak lagi diedarkan di Belanda. Setelah delapan tahun kemudian, ketika perang berakhir susu kembali lagi dikirim ke rumah-rumah. Blue tit dalam waktu yang singkat kembali mencuri cream lagi. Perlu dicatat disini adalah usia hidup blue tit hanya tiga tahun. Jadi dua generasi blue tit sudah berlalu tapi keturunannya masih tahu bagaimana caranya mencuri cream.

Mengapa kemajuan yang didapatkan tikus-tikus bisa ditularkan pada tikus ditempat lain, dan pada blue tit  penularan diamati bisa terjadi meski dua generasi sudah berlalu? Tidak ada yang memberikan penjelasan sampai pakar Biologi Ruper Sheldrake menuliskan interpretasi yang mengagumkan pada bukunya A New Science of Life (1982). Sheldrake memperkenalkan apa yang disebut area morfogenika dan didefinisikannya sebagai memori kolektif suatu makhluk. Masing-masing jenis makhluk mempunyai area morfogenetika yang bisa mempengaruhi area individu jenisnya. Jadi apa yang didapat oleh salah satu anggota jenis makhluk bisa diwariskan kepada seluruh angota jenisnya melalui area yang tak tampak oleh mata. Jadi selain pewarisan dari orang tua kepada anak melalui jalur genetika DNA, ada model pewarisan dalam bentuk memori kolektif kepada anggota keluarga yang satu jenis makhluk. Misalnya, dari tikus kepada tikus atau dari blue tit kepada blue tit atau dari manusia kepada manusia.

Apa yang mengagumkan dari teori Sheldrake adalah keserupaannya dengan teori Carl Jung, psikiatris Swiss yang brilian, tentang ketidaksadaran kolektif (unconscious collective) yaitu gudang memori laten kolektif. Memori disini merujuk kepada akumulasi pengalaman dalam perjalanan evolusi sejak kehidupan bermula. JAdi mencakup residu psikis nenek moyang manusia dan juga makhluk-makhluk yang telah ada sebelumnya, dan itu ada didalam diri kita. Jadi, kalau boleh dikatakan, semacam matriks dimana kita semua terkait didalamnya. Kita semua tidak hanya terbatas kepada enam milyar manusia didunia tetapi juga semua makhluk dan pengalaman dari semuanya sejak kehidupan pertama bermula. Bedanya dengan teori Sheldrake adalah area morfogenetika yang dimaksudnya terbatas kepada memori kolektif makhluk yang satu jenis.

Area morfogenetika Sheldrake bisa dipahami sebagai buku mental yang terus diisi pada setiap momen eksistensi kita dan mencatat semua pengalaman kita. Catatan ini tidak hanya akan dimiliki satu orang tetaepi transpersonal dan terdapat diseluruh ruang dan waktu. Dari teori Sheldrake kita bisa menjelaskan dengan baik eksperimen Havard pada tikus-tikus dan pengalaman terhadap blue tit di Eropa. Tikus-tikus yang sudah pernah belajar melarikan diri lebih cepat dari maze akan memperkuat area morfogenetika. Tikus generasi berikutnya bisa memulai dari kecepatan seperti yang dipelajari dari tikus sebelumnya karena ada area yang tidak terhapuskan oleh ruang atau waktu. Begitu pula yang terjadi pada blue tit. Meski tidak ada lagi generasi burung yang melakukan pencurian cream sehingga burung-burung generasi ketiga tidak pernah belajar meniru tetapi dalam waktu singkat mereka sudah bisa melakukannya. Karena area morfogenetika yang telah diciptakan oleh generasi nenek moyangnya adalah gelombang mental yang tidak berlalu dengan berlalunya waktu.

The Power of The Dream – Celine Dion

 

Deep within each heart
There lies a magic spark
That lights the fire of our imagination
And since the dawn of man
The strenght of just “I can”
Has brought together people of all nations

There’s nothing ordinary
In the living of each day
There’s a special part
Every one of us will play

Feel the flame forever burn
Teaching lessons we must learn
To bring us closer to the power of the dream
As the world gives us its best
To stand apart from all the rest
It is the power of the dream that brings us here

Your mind will take you far
The rest is just pure heart
You’ll find your fate is all your own creation
Every boy and girl
As they come into this world
They bring the gift of hope and inspiration

Feel the flame forever burn
Teaching lessons we must learn
To bring us closer to the power of the dream
The world unites in hope and peace
We pray that it will always be
It is the power of the dream that brings us here

There’s so much strength in all of us
Every woman child and man
It’s the moment that you think you can’t
You’ll discover that you can

Feel the flame forever burn
Teaching lessons we must learn
To bring us closer to the power of the dream
The world unites in hope and peace
We pray that it will always be
It is the power of the dream that brings us here

Feel the flame forever burn
Teaching lessons we must learn
To bring us closer to the power of the dream
The world unites in hope and peace
We pray that it will always be
It is the power of the dream that brings us

The power of the dream
The faith in things unseen
The courage to embrace your fear
No matter where you are
To reach for your own star
To realize the power of the dream
To realize the power of the dream

A Glass Of Milk – Segelas Susu

Source: llerrah.com 

One day, a poor boy who was selling goods from door to door to pay his way through school, found he had only one thin dime left, and he was hungry.

He decided he would ask for a meal at the next house. However, he lost his nerve when a lovely young woman opened the door. Instead of a meal he asked for a drink of water. She thought he looked hungry so brought him a large glass of milk. He drank it slowly, and then asked, “How much do I owe you?” “You don’t owe me anything,” she replied. “Mother has taught us never to accept pay for a kindness.” He said….. “Then I thank you from my heart.”As Howard Kelly left that house, he not only felt stronger physically, but his faith in God and man was stronger also. He had been ready to give up and quit.

Years later, that young woman became critically ill. The local doctors were baffled. They finally sent her to the big city, where they called in specialists to study her rare disease. Dr. Howard Kelly was called in for the consultation. When he heard the name of the town she came from, the light of recognition filled his eyes. Immediately, he rose and went down the hall of the hospital to her room.


Dressed in his doctor’s gown he went in to see her. He recognized her at once. He went back to the consultation room even more determined to do his best to save her life. From that day he gave special attention to her case.After a long struggle, the battle was won. Dr. Kelly requested the business office to pass the final bill to him for approval. He looked at it, and then wrote something on the edge and the bill was sent to her room. She feared to open it, for she was sure it would take the rest of her life to pay for it all. Finally she looked, and something caught her attention on the side of the bill.

She read these words, paid in full with one glass of milk.・(Signed) Dr. Howard Kelly.


Tears of joy flooded her eyes as her happy heart prayed: Thank you Lord, that your love has spread through human hearts and hands.

 

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual
asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya
tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.
     Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari
rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat
seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta
makanan, ia hanya berani meminta segelas air.   Wanita muda tersebut
melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar,
oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.   Anak lelaki itu
meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “berapa saya harus
membayar untuk segelas besar susu ini ?” Wanita itu menjawab:
“Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk
tidak menerima bayaran untuk kebaikan” kata wanita itu
menambahkan.

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan
berkata :” Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.”
Bertahun-tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang
sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup
menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana
terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka
tersebut.      

Dr. Howard dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.
Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit
seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Howard. Segera ia bangkit dan
bergegas turun melalui hall rumahsakit, menuju kamar si wanita
tersebut.        

Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si
wanita itu.   Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang.
Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk
melakukan upaya
 terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia
selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh
kemenangan.. . Wanita itu sembuh !!. Dr. Howard meminta bagian
keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya
pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Howard melihatnya, dan
menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian
mengirimkannya ke kamar pasien.      

Wanita itu takut untuk membuka
tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar
tagihan tersebut walaupun harus diangsur seumur hidupnya. Akhirnya
Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu
yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut.
Ia membaca tulisan yang berbunyi..”Telah dibayar lunas dengan
segelas besar susu !!” tertanda, Dr. Howard Kelly.      

Air mata
kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa:
“Tuhan, Terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi
 seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.”

 Tears of Joy flooded her eyes as her happy heart
 prayed : “Thank you Lord, that your love has
 spread through human hearts and hands”
 ~Margi Harrell~

Buta itu Cinta

Good bad it is all in perspective, therefore relativity it is. Is it a blessing when one can see but cannot himself/herself appreciate the beauty of seeing? Is it really a suffering when the blind does not needing to concern himself/herself with the duality of good and bad in sight?Those living in a space where the bad and good of the world of sight does not exist in the mind, only peace and tranquilty.

Those who are taking things for granted are missing much pieces of a blessing

———–

Buta itu Cinta

Source: MangUcup.org

By: Mang Ucup

“Terima kasih Tuhan!” itulah ucapan pertama saya tiap pagi, setelah saya bangun tidur. Karena begitu saya membuka mata saya tiap hari, saya bisa melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan itu, taman yang hijau, bunga yang warna-warni, langit yang biru.

Ini bagi saya merupakan berkat yang sangat indah, karena kita bisa menikmati karunia melihat ini semuanya, apakah Anda bisa membayangkan bagaimana kalau kita dilahirkan dalam keadaan buta? Hidup kita dalam kegelapan terus-menerus? Jangankan gelap terus menerus, lampu mati satu jam saja kita sudah bingung!

Ada seorang mahasiswa yang ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi orang buta? Kesulitan apa saja yang harus dihadapi oleh mereka yang tidak bisa melihat? Untuk itu ia mencoba melakukan experiment, dimana ia menutup matanya selama tiga bulan. Hal pertama yang ia rasakan ialah kehilangan kemandiriannya, jangankan untuk jalan keluar untuk mengambil pakaian saja tidak bisa, disitulah ia baru bisa merasakan betapa menderitanya seseorang yang tidak bisa melihat. Pada saat akhir experiment, setelah ia bisa membuka mata dan melihatnya kembali, ucapan pertama yang ia ucapkan
ialah: “Terima kasih Tuhan, bahwa Tuhan telah memberikan kepada saya kesempatan
untuk bisa melihat semua ciptaan Tuhan!”

Disisi lain ia telah bisa mendapatkan hikmah untuk bisa menilai sesuatu bukan hanya dari kulit luarnya saja, bukan dari bungkus atau mereknya saja. Apakah penting merk pakaian seperti Aigner, Boss, Christian Dior? Apakah penting mobil bergengsi seperti BMW, Mercedes? Apakah penting gereja yang indah? Apakah penting kosmetik pemoles wajah? Apakah penting untuk menilai seseorang dari warna kulit? Apakah penting menilai seseorang hanya dari wajah apakah ia bermata sipit, atau bermata biru ataukah ia botak?
Apakah penting penampilan wajah maupun paras cantik? Apakah penting rumah
dan kebun yang indah? Apakah penting untuk tinggal di daerah permukiman elit?

Untuk orang tunanetra semua ini sudah tidak mempunyai daya tarik lagi, ia tidak membutuhkan semuanya ini! Ia tidak akan tergoda lagi oleh segala macam merek dan segala macam barang yang indah-indah, sebab semuanya itu tidaklah penting bagi dia! Ia tidak lagi tertarik dari segi dekorasi atau bentuknya makanan, melainkan rasanya itu jauh lebih penting daripada dekorasinya. Ia tidak tertarik dan tidak membutuhkan penampilan luar! Maka dari itu saya yakin hidup kita akan jauh jauh lebih murah kalau mulai besok kita belanja atau membeli sesuatu tidak berdasarkan bungkus, maupun penampilan luarnya!
Dan sayapun yakin kita akan mendapatkan lebih banyak kawan, kalau kita tidak menilai seseorang hanya dari segi bungkus dan penampilannya saja!

Ketika si Pulan dilahirkan ia masih bisa melihat s/d usia 8 tahun, tetapi karena kena penyakit akhirnya ia menjadi buta total dan tidak bisa melihat lagi. Tentu Anda bisa membayangkan bagaimana perasaannya si Pulan kalau dengan seketika dunianya menjadi gelap gulita, seakan-akan layar tabir kehidupannya ditutup, sehingga ia tidak bisa melihat dan menikmati lagi keindahan alam ini. Ia menjalani sisa kehidupannya sebagai seorang tuna netra.

Walaupun demikian ia merasa beruntung, karena telah bisa mendapatkan pasangan hidup, seorang wanita yang tidak buta tetapi bersedia untuk dijadikan istrinya. Kenapa wanita ini memilih seorang tuna netra sebagai calon suami? Karena wajah wanita itu sendiri telah rusak kebakar, sehingga ia tidak bisa mendapatkan seorang suami, jangankan untuk mendapatkan jodoh, pergi keluar rumahpun ia sering sekali menjadi bahan ejekan dan tertawaan orang, bahkan anak kakaknya sendiri yang masih kecil merasa takut melihat wajahnya. Oleh sebab itulah ia mencari seorang suami yang tidak
menilai dia dari segi wajahnya, ia mencari suami yang bisa mengasihi dia bukan berdasarkan dari segi penampilan luarnya.

Mereka berdua bisa hidup bahagia dengan penuh keharmonisan dan kasih sayang bahkan mereka telah dikaruniakan dua orang anak sehat. Pada suatu hari si Pulan pulang dengan perasaan riang gembira: “Mam, aku punya satu surprise yang sangat menyenangkan?”kata si Pulan, “Aku akan bisa melihat lagi, masa gelap hidup saya akan berakhir!”ucap si Pulan kembali. Bagi si Pulan ini merupakan hadiah yang terindah dan terbesar yang Tuhan akan berikan selama hidupnya.

Maklumlah karena hal inilah yang ia impi-impikan dan yang ia dambakan di dalam kehidupannya. Tiap hari si Pulan berdoa berkali-kali kepada Tuhan, dan memohon agar sekali saja di dalam hidupnya, walaupun hanya untuk beberapa detik sekalipun juga untuk bisa melihat wajah istri dan anak-anaknya yang tercinta. Rupanya Tuhan telah mengabulkan doanya dimana dalam waktu yang dekat ini ia akan bisa melihat lagi seperti sediakala. Seorang Dr. ahli mata dari Jerman, telah menyatakan kesediaannya untuk mengoperasi si Pulan, sehingga akhirnya ia bisa melihat lagi. Berdasarkan hasil
pemeriksaannya ia menyatakan bahwa ia yakin bisa menolong si Pulan sehingga ia bisa
melihat lagi. Dan minggu yang akan datang ia sudah bisa di operasi.

Apakah Anda bisa membayangkan, bagaimana perasaan si Pulan setelah 22 tahun buta, akhirnya ia akan bisa melihat lagi? Ia akan bisa melihat kembali, semua keindahan alam yang pernah ia lihat sebelumnya selama delapan tahun, bagaimana hijaunya rumput itu, bagaimana birunya langit. Ia akan bisa melihat dan menikmati lagi isi dunia ini dengan segala macam warna yang indah-indah, tetapi yang lebih penting dari segala2nya ialah ia akan bisa melihat wajah istri dan anak-anaknya yang terkasih, yang belum pernah ia
lihat selama hidupnya.

Apakah surprise ini menyenangkan istrinya? Disatu pihak ia merasa senang kalau suaminya bisa melihat kembali, tetapi dilain pihak ia merasa sangat takut sekali. Ia merasa takut, apakah kehidupan kekeluargaan mereka akan bisa tetap berjalan seperti sediakala dengan penuh kasih dan keharmonisan?
Ia takut perkawinannya akan menjadi kandas, ia takut rumah tangganya akan menjadi hancur. Ia merasa takut, bagaimana kalau suaminya nanti melihat wajahnya yang buruk dan sudah rusak ini. Ia merasa takut suaminya tidak akan bisa dan mau mengasihinya lagi, bahkan ia takut di tinggal oleh suaminya, karena penampilan luarnya yang buruk dan rusak terbakar. Bahkan ia berdoa kepada Tuhan memohon pengampunan dosa, karena ia merasa bersalah, sebab ia tidak mampu berbagi rasa dan bisa turut merasakan perasaan gembira bersama suaminya. Ia merasa perasaan egoisnya terlalu besar, karena ia
terlalu mengasihi suaminya.

Perasaan gembira bahwa suaminya akan bisa melihat kembali, telah ditutup oleh rasa takut tak terhingga. Apakah salah kalau ia sangat mengasihi suaminya? Apakah salah kalau ia merasa takut ditinggal oleh suaminya? Walaupun demikian ia tidak mau mengungkapkan perasaan ini kepada suaminya, ia tetap pendam di dalam hatinya.

Semakin mendekati hari H, dimana ia akan bisa melihat kembali, semakin senang perasaan si Pulan, bahkan kawan-kawan maupun tetangganya sekampung sudah mengetahui berita bahagia ini dan semuanya turut mengucapkan selamat dan turut menyatakan kebahagiaan mereka, hanya istrinya seorang semakin mendekati hari H, semakin cemas ia rasakan dan rasa takutnyapun semakin besar. Istrinya tetap tidak mau mengungkapkan perasaannya, karena ia tidak mau merusak kebahagiaan maupun harapan dari suaminya. Walaupun ia tidak mengucapkannya, tetapi hal ini terasakan sekali oleh suaminya, karena istrinya yang tadinya periang seolah-olah berubah menjadi semakin pendiam dan sering melamun.

Hari H pun tiba, sejak jam empat pagi si Pulan sekeluarga telah bangun, karena bagi si Pulan hari ini adalah hari yang terindah di dalam kehidupannya. Dan juga seperti persyaratan dari Dr. sejak kemarin ia sudah puasa tidak makan maupun minum lagi. Tepat jam 8.00 pagi bel bunyi rumah bunyi, rupanya supir taxi yang akan menjemput si Pulan telah tiba, si Pulan berjalan keluar untuk membukakan pintu, tetapi istrinya pergi ke kamar tidur untuk berdoa sambil menangis. Ia tidak mau dan tidak bisa pamit lagi dari suaminya, karena perasan takutnya sudah tidak tertahankan lagi.

Pada saat ia berlutut dan berdoa, sambil berlinang air matanya keluar, tiba-tiba ia merasakan belaian tangan yang membelai kepalanya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Ternyata itu adalah tangan suaminya, ia berkata:
“Mah, saya tidak jadi pergi, saya telah membatalkan jadwal operasinya, karena saya tidak jadi dan tidak akan mau di operasi lagi. Bagi saya kasih sayangmu ada jauh lebih indah dan lebih berharga daripada bisa melihat. Buat apa saya bisa melihat, kalau setelah itu hubungan dan keharmonisan hidup kita berdua menjadi rusak. Kasih sayangmu ada jauh lebih berharga dan lebih indah, daripada mata yang bisa melihat lagi. Biarlah saya tetap buta sampai dengan akhir ajal saya, yang penting kita bisa berkumpul dengan penuh kasih
sayang untuk selama-lamanya.!”

Karena kasih kepada istrinya ia rela berkorban. Ia rela untuk hidup sebagai seorang tuna netra untuk selama-lamanya, apakah kita bersedia dan mau berkorban untuk orang yang kita kasihi seperti cerita yang tersebut diatas?

Tidak semua orang tunatera ingin bisa melihat kembali seperti pengarang dari lagu “Blessed Assurance”, dimana ia memberikan kesaksiannya dalam lagu tersebut. Fanny Crosby, yang telah membuat komposisi dari ribuan lagu, pada saat ia berusia enam minggu ia menderita penyakit infeksi yang mengakibatkan ia menjadi buta dan dalam usia delapan tahun, pada saat anak-anak lain sedang bermain diluar dengan cerianya ia menulis puisi yang tercantum dibawah ini:

Oh, what a happy soul am I! Although I cannot see, I am resolved that in this world contented I shall be. How many blessings I enjoy that other people don’t. To weep and sigh because I’m blind, I cannot–and I won’t!

Mang Ucup
Email: mang.ucup@…
Homepage: www.mangucup.net

Donkey in The Well – Belajar dari Kedelai

Donkey in the Well

One day a farmer’s donkey fell down into a well. The animal cried piteously for hours as the farmer tried to figure out what to do. Finally he decided the animal was old, hat the well needed to be covered anyway and that it just wasn’t worth retrieving the donkey. So he invited all his neighbours to come over and help him.
They all grabbed a shovel and began to shovel dirt into the well. At first, the donkey realized what was happening and cried horribly. Then, to everyone’s amazement, he quietened down. A few shovel loads later, the farmer finally looked down the well and was astonished at what he saw. With every shovel of dirt that hit his back, the donkey was doing something amazing. He would shake it off and take a step up. As the farmer’s neighbours continued to shovel dirt on top of the animal, he would shake it off and take a step up. Pretty soon, everyone was amazed as the donkey stepped up over the edge of the well and trotted off!
Life is going to shovel dirt on you, all kinds of dirt. The trick to getting out of the well is to shake it off and take a step up.

Author unknown

Belajar dari Keledai
 
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur.. Hewan itu menangis dengan pilu selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup – karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.
Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa
yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang  terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ‘sumur’ (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari ‘sumur’ dengan  menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.
Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !
Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
> 1. Bebaskan dirimu dari kebencian
> 2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
> 3. Hiduplah sederhana
> 4. Berilah lebih banyak
> 5. Berharaplah lebih sedikit
> 6. Tersenyumlah
Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama.

GUNCANGKANLAH !!!!
 
“Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini”

Kotak Sabun, Pensil dan Cermin

Seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.

Kasus 1

Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong. Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.

Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun
tidak sedikit.

Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.

Kasus 2

Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai
dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!

Kasus 3

Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik) mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah ini. Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang
terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, “Inti dari keluhan pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu”. Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan “menunggu” dan merasa “tidak menunggu lift”.

Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah.

diposting ulang dari : www.dominggus.com

Best Regards,

Syamsi Kusyanti,

Consumer Loan Group
PT. Bank Mandiri, tbk
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 36-38
Jakarta 12190

my profile :
http://syamsikusyanti.multiply.com/journal
http://www.friendster.com/syamsiku

Antara Kopi dan Cangkir

Source: dominggus.com

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang professor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca : membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dollar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merk baju dan jam tangan yang mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas plastik murahan untuk perlangkapann perkemahan sederhana. “Serve yourself,” kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

“Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?” sang profesor memulai wejangannya. “Now consider this : life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided,” kali ini kalimatnya mulai menekan hati. “So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead,” demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca email yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak diantara kita yang salah mensiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca :profesional dan penngusaha) yang sering kita lihat dalam mensiasati kopi dan cangkir kehidupann ini. Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akkhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sanngat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan merubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kualitas dan kuantitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan seberapa bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit – artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan – mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan berkurang rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan hidup, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tidak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian mahal dan eksklusif tidak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tidak selalu membuat tubuh jadi sehat, malah yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan dia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain pernah berpetuah, “Take no thought for your life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more that meat and the body than raiment?” Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap : mengkhawatirkann cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Enjoy your coffee, my friend!