Tag Archives: Cinta

How to Love Unconditionally

Source: iloveulove

From “Friendship with God

How can I love

unconditionally and unlimitedly?

 

The first step in being fully loving is that you must fully love your Self. And this you cannot do so long as you believe that you were born in sin, and are basically evil.

If you believe that humans are by nature non-trustworthy and evil, you will create a society that supports that view, then enact laws, approve rules, adopt regulations, and impose restraints that are justified by it.

If you believe that humans are by nature trustworthy and good, you will create an entirely different kind of society, in which laws, rules, regulations, and restraints are rarely required. The first society will be freedom limiting, the second, freedom giving.

God is fully loving because God is fully free. To be fully free is to be fully joyful, because full freedom creates the space for every joyful experience. Freedom is the basic nature of God. It is also the basic nature of the human soul. The degree to which you are not fully free is the degree to which you are not fully joyful and that is the degree to which you are not fully loving.

To be totally loving means to be fully free.

We should allow everyone to be able to do anything they want.

That is how God loves. God allows everyone to do anything they want.

It is normal in your society to punish. It is abnormal in your society to simply allow a consequence to assert itself to reveal itself.

Punishments are your announcement that you are too impatient to await a natural outcome. Punishments are someone else’s decision that one has done wrong.

Consequences are one’s own experience that something does not work. That is, it did not produce an intended result.

In other words, we do not learn quickly from punishments, because we see them as something that someone else is doing to us. We learn more readily from consequences, because we see them as something that we are doing to ourselves.

The biggest punishment that you have devised is the withholding of your love. You have shown your offspring that if they behave in a certain way, you will withhold your love. It is by the granting and the withholding of your love that you have sought to regulate and modify, to control and to create, your children’s behaviors.

This is something that God would never do.

True love never withdraws itself. And that is what loving fully means.

I am love. One does not have to practice what one is, one simply is it.

I am the love that knows no condition, nor limitation of any kind.

I am totally loving, and to be totally loving means to be willing to give every mature sentient being total freedom to be, do, and have that which they wish.

Even if you know it will be bad for them?

It is not for you to decide that for them.

Not even for our children?

If they are mature sentient beings, no. If they are grown children, no. And if they are not yet mature, the fastest way to lead them to their own maturity is to allow them the freedom to make as many choices as possible as early as practical.

This is what love does. Love lets go. That which you call need, and which you often confuse with love, does the opposite. Need holds on. This is the way you can tell the difference between love and need. Love lets go, need holds on.

So to be totally loving, I let go?

Among other things, yes. Let go of expectation, let go of requirements and rules and regulations that you would impose on your loved ones. For they are not loved if they are restricted. Not totally.

Nor are you; you do not love yourself totally when you restrict yourself, when you grant yourself less than total freedom, in any matter.

Yet remember that choices are not restrictions. So do not call the choices you have made restrictions. And lovingly provide for your offspring, and all your loved ones, all the information that you feel you may have, to help them make good choices – “good” being defined here as those choices most likely to produce a particular desired result, as well as what you know to be their largest desired result: a happy life.

Share what you know about that. Offer what you have come to understand. Yet do not seek to impose your ideas, your rules, your choices upon another and do not withhold your love should another make choices you would not make. Indeed, if you believe their choices to have been poor ones, that is precisely the time to show your love.

That is compassion, and there is no higher expression.

What else does it mean to be totally loving?

It means to be fully present, in every single moment. To be fully aware. To be fully open, honest, transparent. It means to be fully willing, to express the love that is in your heart full out. To be fully loving means to be fully naked, without hidden agenda or hidden motive, without hidden anything.

And you say that it is possible for human beings, for regular people like me, to achieve such love? This is something of which we are all capable?

It is more than that of which you are capable. It is that which you are. This is the nature of Who You Are. The most difficult thing that you do is to deny that. And you are doing this difficult thing every day. It is why your life feels so difficult. Yet when you do the easy thing, when you decide to come from, to be, Who You Really Are – which is pure love, unlimited and unconditioned-then your life becomes easy again. All the turmoil disappears, all the struggle goes away.

This peace may be achieved in any given moment. The way to it may be found by asking a simple question:

What would love do now?

This is a marvelous question, because you will always know the answer. It is like magic. It is cleansing, like a soap. It takes the worry out of being close. It washes away all doubt, all fear. It bathes the mind with the wisdom of the soul.

What a good way of putting that.

It is true. When you ask this question, you will know instantly what to do. In any circumstance, under any condition, you will know. You will be given the answer. You are the answer, and asking the question brings forth that part of you.

Do not second-guess this answer when it instantly comes to you. When you second-guess is when you fool yourself – and can make a fool of yourself. Go into the heart of love, and come from that place in all your choices and decisions, and you will find peace.

Visit the “Conversations with God” website

Conversations with God Books at Amazon.com

M.A.T.A.H.A.R.I

Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.
Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia.
Dan pria berkata ingin menjadi matahari.
Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari,

bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani
bunga…

Wanita berkata ingin menjadi rembulan
dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari.
Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu,
tetapi pria ingin tetap jadi matahari….
Wanita berkata ingin menjadi Phoenix…
yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari,
dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari….
Wanita tersenyum pahit dan kecewa.
Wanita sudah berubah tiga kali…
namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari,
tanpa mau ikut berubah bersama wanita.
Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi
matahari….

Pria merenung sendiri dan menatap matahari.
Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup.
Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang…
dan terus hidup sebagai bunga yang cantik.
Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga.
Ini disebut Kasih…..
yaitu memberi tanpa pamrih.

Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari…..
agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi.
Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari,
tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan,
siapakah yang ingat kepada matahari?
Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan…
dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut….
Ini disebut dengan Pengorbanan…
menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.
Saat wanita jadi phoenix yang dapat terbang tinggi, jauh ke langit bahkan di atas matahari…
Pria tetap selalu jadi matahari agar phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau
dan matahari tidak akan mencegahnya.
Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix.
Matahari selalu ada untuk phoenix kapan pun ia mau kembali walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari.
Tidak akan ada makhluk lain selain phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya…..
Ini disebut dengan Kesetiaan…..
walaupun ditinggal pergi dan dikhianati, namun tetap menanti dan mau memaafkan.
Untuk para wanita…..
Siapakah Matahari yang ada di dalam kehidupanmu??
Bila engkau sudah menemukan dan melihat Matahari dalam kehidupanmu…pergi,lihat dan jangan pernah meninggalkannya

Plato bertanya akan cinta dan kehidupan

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”.
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu
apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil
sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,”Apa itu perkawinan?
Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa
boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon
saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa
pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga
terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”
Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah
menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan
kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah
buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya
kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

CATATAN – KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam
lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat
adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat
dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah
cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kita mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kita dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya

Cinta Itu Butuh Bukti

Source: http://agussyafii.blogspot.com/2007/09/cinta-itu-butuh-bukti.html

Jika anda mencintai seseorang, anda butuh bukti bukan janji. Ketika orang yang anda cintai bisa terlihat sholeh, salatnya khusyu’ rajin ke masjid, terlihat sebagai sosok yang sempurna karena apapun sanggup dia lakukan agar mendapatkan cinta anda.

Tapi begitu menikah, segala bisa berubah, tidak lagi rajin shalat, tidak lagi pernah ke masjid, tidak lagi nampak sholeh bahkan terkadang sedikit saja kesalahan menjadi pemarah karena baginya cinta sudah didapat lantas untuk apa semua itu.

Sebelum memilih pasangan, agar tidak menyesal kemudian. Cara yang paling mudah untuk membuktikan ketulusan hatinya adalah buatlah sesuatu yang bertentangan dengan yang dia harapkan. Jika dia berharap tampil cantik, maka tampillah jelek. Buatlah dirinya pada kondisi puncak, puncak kekesalan, puncak kekecewaan atau puncak kepedihan.

Jika orang seperti ini mampu melewati semua itu dengan kesabaran dan senyuman maka patutlah dia menjadi teman hidup anda. Orang seperti ini akan membuat anda merasa nyaman disisinya karena hatinya yang luas dan memahami bahwa setiap orang sedang belajar menjadi lebih baik. Jika tidak, ucapkan selamat tinggal untuknya karena dia hanya
memikirkan dirinya sendiri.

Wassalam,
agussyafii

=============================================================
silahkan kirimkan komentar anda http://agussyafii.blogspot.com atau
sms 0888 176 48 72
=============================================================